This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Ragam Keindahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ragam Keindahan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 April 2014

Elkana Gunawan

Dear Sobat... Keindahan, etnik serta budaya melebur menjadi ketertarikan saya pada dunia Fashion. Nah, berkaitan dengan hal itu kali ini saya akan berbagi mengenai sosok desainer Indonesia yang sangat cinta dengan kain-kain tradisional.

Dulu desain etnik terkesan kuno bahkan masyarakat enggan mengenakannya dalam berbagai kesempatan. Namun kini nuuansa etnik  semakin diburu dan dicintai, bahkan banyak kalangan desainer yang sebenarnya telah lama menggunakan tema etnik sebagai nafas dalam mendesain karyanya. Salah satunya adalah desainer asal Semarang yang akrab disapa Elkana, desainer yang selalu setia dengan nilai etnik disetiap rancangannya ini sukses dengan brand nya yang menjangkau hampir semua kalangan. 

Pemilik nama Ignatius Elkana Gunawan Tanuwidjaja ini adalah salah satu desainer yang sangat cinta dengan kain-kain tradisional, maka tidak heran jika disetiap rancangann yang ditampilkannya ttidak lepas dari kesan etnik yang identik dengan warna-warna alam. "Kecintaan akan bahan tradisional memang sejak saya kecil, menyukai bau malam pada kain batik akhirnya membuat saya menyukai motif dan warnanya. Setelah semakin dewasa dan mengetahui arti atau filosofi dari motif-motif tersebut maka kecintaan saya semakin bertambah apalagi setelah tau proses pembuatannya yang terbilang cukup sulit, "jelasnya ramah.

Keputusannya untuk tetap setia mengaplikasikan tema etnik dalam setiap rancangannya membuat Elkana semakin bangga saat dua tahun terakhir ini batik, tenun, dan lurik semakin mendapat tempat di hati masyarakat. "Semuanya berjalan begitu saja, karena bermula dari hobi maka apa yang saya rancang tidak harus selalu menjadi nilai bisnis. Disini terbukti bahwa apa yang saya cintai akhirnya membawa angin yang cukup segar bagi industri kain-kain tradisioanal termasuk busana-busana ready wear saya," ungkapnya tersenyum. Pria ramah kelahiran Tulungagung 13 Maret 1965 ini bukan tanpa perjuangan memperkenalkan setiap desainnya namun tekad kerasnya memperkenalkan desain-desain etnik kini ternyata berbuah manis. 

Bagi Elkana, selain mendapat peluang bisnis yang cukup baik pada karya yang dihasilkannya adalah satu mimpi dan cita-cita mulia yang diwujudkannya adalah membantu ekonomi serta kreatifitas para pengerajin kain-kain tradisonal.
Sumber : Majalah Kebaya, 2014, Volume 31

Fashion Show Rancangan Elakana
Elkana Gunawan


Tenun Ikat Sintang atau Tenun Ikat Dayak

Dear Sobat, sore yang berbahagia ini saya ingin berbagi mengenai Tenun Ikat Sintang atau Tenun Dayak. Tenun Ikat dan Batik merupakan hasil karya Bangsa Indonesia yang sangat saya kagumi. Banyak kandungan makna dan filosofi dibalik keindahan motif serta coraknya, walaupun jujur saya belum sampai kalau harus memahami dan belajar mengenai filosifi tersebut. Sebatas melihat keindahan helaian kain tersebut saja sudah mencuri hati saya apalagi jika mengetahui makna dan semua filosofi yang terkandung.

Ketertarikan saya pada Tenun Ikat tersebut karna ketertarikan saya terhadap dunia fashion. Banyak keindahan-keindahan lain yang bisa diciptakan dari helaian Tenun Ikat. Mengkombinasikan kain tradisional tersebut menjadi sebuah karya yang luar biasa bukanlah suatu hal yang sulit. Di kampung saya (Sintang) telah banyak masyarakat yang mengapresiasi produk lokal tersebut dengan menjadikannya baju, gaun serta pakaian lain yang tentunya di padu padankan agar terlihat modern namun tetap tidak meninggalkan kesan etniknya.

Berbicara mengenai Tenun Ikat Sintang alangkah baiknya kita mengetahui sejarah dibalik adanya karya yang indah tersebut. Pada waktu lampau menenun menjadi kewajiban bagi setiap perempuan dari suku Dayak. Hal ini dilakukan sebagai tuntutan dalam pemenuhan kebutuhan akan pakaian serta keperluan adat istiadat. Namun dengan perkembangan zaman dan teknologi maka kegiatan menenun mmenjadi sesuatu yang langka dan tidak dilakukan oleh sebagian besar masyarakat. Bagi sebagian kecil ibu-ibu, menenun dilaksanakan untuk mengisi waktu luang disela-sela kesibukan kegiatan pertanian, sehinggga untuk mengahsilkan kain memerlukan cukup banyak waktu. Dipahami bahwa seni budaya menenun merupakan kebudayaan yang diwariskan oleh generasi terdahulu yang mempunyai keunikan, nilai seni dan sejarah yang tinggi. Tahapan untuk menghasilkan sebuah karya kain tenun ikat dimulai dari penanaman kapas, pembuatan benang/memintal, ngaos (peminyakan benang), mewarna/mencelup, mengikat motif, menenun dan menjadikan pakaian adat merupakan rangkaian proses panjang. Dari beberapan tersebut dilakukan ritual-ritual tertentu yang dipercaya sebagai roh untuk membangkitkan semangat dalam bekerja maupun untuk memperoleh hasil yang memuaskan.

Berikut beberapa motif Tenun Ikat Sintang :



Sosialisasi keberadaan tenun ikat tersebut telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah misalnya dengan dibangunnya Galeri seni maupun dalam mengikuti event di dalam maupun di luar Kabupaten Sintang. Para designer lokal pun selalu memiliki ide kreatif untuk selalu menciptakan inovasi serta karya indah nan bernilai tinggi. Semoga saja banyak investor lokal maupun luar yang tertarik akan keberadaan Tenun ini agar dapat meningkatkan perekonomian masyarakat di kota ini.
Jalan-jalan saya ketika mengunjungi Para Penenun di Betang Ensaid Panjang

Sumber : Profil Produk Fashion Berbasis Etnik Lokal dan Perpaduan Trend internasional, 2011, Kementrian Perindustrian RI Direktorat Jendral Industri Kecil dan Menengah Direktorat IKM Wilayah I.