This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 27 April 2014

TEKAB VS IDEALIS


Dear Sobat,
Apoteker TEKAB *teken kabur, ah itu mah udah jadi bahan pembicaraan kronik sejak garam rasanya manis. Banyak yang pro dan tentunya ga sedikit juga yang kontra. Pihak pro tekab mengatakan "ini realita hidup men!!",dilain pihak mengatakan :"gaji dari hasil tekab itu haram bro!!!". Aaaaaaah, entahlah mau sampe kapan polemik ini bakal berakhir. 

Sekedar mengingat-ingat masa kuliah, salah seorang dosen memberikan nasehat kepada kami kira-kira  redaksinya seperti ini " Kalian nanti kalo udah lulus jangan mau jika ada PSA yang ngerayu untuk jadi Apoteker Tekab. Kalo bukan kita siapa lagi yang bakal menghargai atau menyelamatkan nama baik profesi Apoteker". Hmmm, nasehat yang super bagi seorang dosen kepada anak didiknya. Saat itupun saya cuma aguk-aguk tanda merasa paham dengan apa yang disampaikan. 'Mengangguk tanda merasa paham', yaaaa hanya sekedar paham dan tidak lebih dari itu. Di kepala ini saat itu sudah dipenuhi dengan mindset bahwa sebagian besar atau bahkan semua Apotek yang saya tau APA nya adalah tekab. Bahkan dilain tempat dan kesempatan dosen saya juga ada yang Tekab(pada zaman itu, ga tau klo sekarang). Kata hati pun berbicara "aku pengen idealis, tapi ga tau juga nanti". 

Singkat cerita, saat ini saya telah di sumpah menjadi seorang Apoteker. Beberapa bulan yang lalu saya mengikuti test dan lolos ( 24 Desember 2013) menjadi seorang 'abdi negara'. Tak lama dari pengumuman kelulusan tersebut ada seorang APA yang menghubungi dengan maksud agar saya bisa menggantikan posisinya kelak jika ia pindah ke luar daerah (beliau dalam waktu dekat akan pindah ke luar kota). Naaaaah, galau juga tu saya dibuatnya. Tekab, idealis, tekab, idealis, tekab, idealis,tekab,idealis, tekab, idealis dan akhirnya dengan pertimbangan tertentu saya memilih tekab. Tak bisa dipungkiri ada rasa tenang mengenai nasib keuangan saya kelak. "Lumayanlah, gaji 'abdi negara'+gaji tekab" kata hati ini. Sampai akhirnya datanglah suatu kabar dimana ternyata saya tidak jadi untuk menjadi APA karena beberapa alasan baik dari pihak APA yang merekomendasikan saya maupun dari PSA. Sempet syok juga dengarnya. 'Aman'ku telah hilang, lirih saya dalam hati. Untung saja 'sisi kanan' ini langsung mengambil alih: "Ah sudahlah, ini bukan rezqimu". 

Perdamaian dalam diri ini pun terjadi. Kesimpulan sederhana yang saya ambil (berlaku) untuk saat ini bahwa itu memang bukan rezqi saya. Tapi tetap saja meninggalkan pertanyaan besar dalam benak, "apakah ini ada hubungannya dengan TEKAB vs IDEALIS ?????? Entahlah.

Merintis usaha yang ga ada hubungan dengan APA, Apotek, STRA, SIK etc adalah solusi terbaik pada saat ini (menurut saya). Tetap menjalankan tugas sebagai 'abdi negara' dan kemudian dilanjutkan dengan merintis usaha. So, amankan... :)

*mohon maaf jika tulisan saya ada yang kurang berkenan di hati pembaca

Jumat, 25 April 2014

Elkana Gunawan

Dear Sobat... Keindahan, etnik serta budaya melebur menjadi ketertarikan saya pada dunia Fashion. Nah, berkaitan dengan hal itu kali ini saya akan berbagi mengenai sosok desainer Indonesia yang sangat cinta dengan kain-kain tradisional.

Dulu desain etnik terkesan kuno bahkan masyarakat enggan mengenakannya dalam berbagai kesempatan. Namun kini nuuansa etnik  semakin diburu dan dicintai, bahkan banyak kalangan desainer yang sebenarnya telah lama menggunakan tema etnik sebagai nafas dalam mendesain karyanya. Salah satunya adalah desainer asal Semarang yang akrab disapa Elkana, desainer yang selalu setia dengan nilai etnik disetiap rancangannya ini sukses dengan brand nya yang menjangkau hampir semua kalangan. 

Pemilik nama Ignatius Elkana Gunawan Tanuwidjaja ini adalah salah satu desainer yang sangat cinta dengan kain-kain tradisional, maka tidak heran jika disetiap rancangann yang ditampilkannya ttidak lepas dari kesan etnik yang identik dengan warna-warna alam. "Kecintaan akan bahan tradisional memang sejak saya kecil, menyukai bau malam pada kain batik akhirnya membuat saya menyukai motif dan warnanya. Setelah semakin dewasa dan mengetahui arti atau filosofi dari motif-motif tersebut maka kecintaan saya semakin bertambah apalagi setelah tau proses pembuatannya yang terbilang cukup sulit, "jelasnya ramah.

Keputusannya untuk tetap setia mengaplikasikan tema etnik dalam setiap rancangannya membuat Elkana semakin bangga saat dua tahun terakhir ini batik, tenun, dan lurik semakin mendapat tempat di hati masyarakat. "Semuanya berjalan begitu saja, karena bermula dari hobi maka apa yang saya rancang tidak harus selalu menjadi nilai bisnis. Disini terbukti bahwa apa yang saya cintai akhirnya membawa angin yang cukup segar bagi industri kain-kain tradisioanal termasuk busana-busana ready wear saya," ungkapnya tersenyum. Pria ramah kelahiran Tulungagung 13 Maret 1965 ini bukan tanpa perjuangan memperkenalkan setiap desainnya namun tekad kerasnya memperkenalkan desain-desain etnik kini ternyata berbuah manis. 

Bagi Elkana, selain mendapat peluang bisnis yang cukup baik pada karya yang dihasilkannya adalah satu mimpi dan cita-cita mulia yang diwujudkannya adalah membantu ekonomi serta kreatifitas para pengerajin kain-kain tradisonal.
Sumber : Majalah Kebaya, 2014, Volume 31

Fashion Show Rancangan Elakana
Elkana Gunawan


Tenun Ikat Sintang atau Tenun Ikat Dayak

Dear Sobat, sore yang berbahagia ini saya ingin berbagi mengenai Tenun Ikat Sintang atau Tenun Dayak. Tenun Ikat dan Batik merupakan hasil karya Bangsa Indonesia yang sangat saya kagumi. Banyak kandungan makna dan filosofi dibalik keindahan motif serta coraknya, walaupun jujur saya belum sampai kalau harus memahami dan belajar mengenai filosifi tersebut. Sebatas melihat keindahan helaian kain tersebut saja sudah mencuri hati saya apalagi jika mengetahui makna dan semua filosofi yang terkandung.

Ketertarikan saya pada Tenun Ikat tersebut karna ketertarikan saya terhadap dunia fashion. Banyak keindahan-keindahan lain yang bisa diciptakan dari helaian Tenun Ikat. Mengkombinasikan kain tradisional tersebut menjadi sebuah karya yang luar biasa bukanlah suatu hal yang sulit. Di kampung saya (Sintang) telah banyak masyarakat yang mengapresiasi produk lokal tersebut dengan menjadikannya baju, gaun serta pakaian lain yang tentunya di padu padankan agar terlihat modern namun tetap tidak meninggalkan kesan etniknya.

Berbicara mengenai Tenun Ikat Sintang alangkah baiknya kita mengetahui sejarah dibalik adanya karya yang indah tersebut. Pada waktu lampau menenun menjadi kewajiban bagi setiap perempuan dari suku Dayak. Hal ini dilakukan sebagai tuntutan dalam pemenuhan kebutuhan akan pakaian serta keperluan adat istiadat. Namun dengan perkembangan zaman dan teknologi maka kegiatan menenun mmenjadi sesuatu yang langka dan tidak dilakukan oleh sebagian besar masyarakat. Bagi sebagian kecil ibu-ibu, menenun dilaksanakan untuk mengisi waktu luang disela-sela kesibukan kegiatan pertanian, sehinggga untuk mengahsilkan kain memerlukan cukup banyak waktu. Dipahami bahwa seni budaya menenun merupakan kebudayaan yang diwariskan oleh generasi terdahulu yang mempunyai keunikan, nilai seni dan sejarah yang tinggi. Tahapan untuk menghasilkan sebuah karya kain tenun ikat dimulai dari penanaman kapas, pembuatan benang/memintal, ngaos (peminyakan benang), mewarna/mencelup, mengikat motif, menenun dan menjadikan pakaian adat merupakan rangkaian proses panjang. Dari beberapan tersebut dilakukan ritual-ritual tertentu yang dipercaya sebagai roh untuk membangkitkan semangat dalam bekerja maupun untuk memperoleh hasil yang memuaskan.

Berikut beberapa motif Tenun Ikat Sintang :



Sosialisasi keberadaan tenun ikat tersebut telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah misalnya dengan dibangunnya Galeri seni maupun dalam mengikuti event di dalam maupun di luar Kabupaten Sintang. Para designer lokal pun selalu memiliki ide kreatif untuk selalu menciptakan inovasi serta karya indah nan bernilai tinggi. Semoga saja banyak investor lokal maupun luar yang tertarik akan keberadaan Tenun ini agar dapat meningkatkan perekonomian masyarakat di kota ini.
Jalan-jalan saya ketika mengunjungi Para Penenun di Betang Ensaid Panjang

Sumber : Profil Produk Fashion Berbasis Etnik Lokal dan Perpaduan Trend internasional, 2011, Kementrian Perindustrian RI Direktorat Jendral Industri Kecil dan Menengah Direktorat IKM Wilayah I.

Jumat, 29 November 2013

Amanah Baru

Assalamua'laikum.

Tambah tittle  di nama kita itu sesuatu'  ye rasanya, bukan karena apa-apa sih sebeeenaaaarnya... masalahnya entu nama saya tambah puanjang jadinya. Sembari memikirkan nama saya yang tambah panjang tentunya masih ada hal yang lebih penting untuk dipikirkan yaitu TANGGUNG JAWAB atas tittle  tersebut. Sekilas untuk mengingat sepertinya perlu saya tulis disini SUMPAH yang pernah saya ikrarkan dengan penuh kesungguhan dan keinsyafan.

Demi Alllah Saya bersumpah :
1. Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan, terutama dalam bidang Kesehatan;
2. Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaaan saya dan keilmuan saya sebagai Apoteker;
3. Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan kefarmasian saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan;
4. Saya akan menjalankan tugas saya dengan sebaik-baiknya sesuai dengan martabat dan tradisi luhur jabatan kefarmasian;
5. Dalam menunaikan kewajiban saya, sayan akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian, atau kedudukan sosial;
6. Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguuh dan dengan penuh keinsyafan.

tuuuuuu.. ngerikan bacanya.. iiiiitu SUMPAH brooo SUMPAH...
Semoga saja saya dan rekan-rekan sejawat bisa terus mengingat, meresapi dan mengamalkan tu sumpah.

Jauh hari sebelum saya mengikrarkan sumpah tersebut banyak cerita dan pengalaman yang manis, pahit, haru biru, hambar, hujan, pelangi, canda, tawa, tangis dan bahagia *agak lebay kali ye..
Tapi itulah perjalanan saya,..

Sekedar mengingat kembali, kuliah di kampus Universitas Islam Indonesia di Yogjakarta selama 6 bulan, PKPA (Praktek Kerja Profesi Apoteker) Rumah Sakit di RSD Soebandi di Jember selama 2 bulan dan PKPA Apotek di Apotek Insaan di Yogjakarta selama sebulan, libur sebulan terus pulang kampung *tanah Borneo, daaaaan masuk lagi saya langsung mengikuti SIDANG KOMPRE.
ooooooooh meeeeeeeennn..!!!! itu semua tu pengalaman yang ga terlupakan.

Bersyukur..bersyukur..dan bersyukur itu yang saya bisa lakukan sekarang atas segala pengalaman dan nikmat tersebut.
Kalo disuruh ngucapin terima kasih kepada siapa, duh ga cukuplah ni halaman untuk nulisnya. Terlalu banyak orang-orang yang berjasa buat saya.
Semua yang baru saya capai saat ini dengan penuh kerendahan hati tetap akan saya persembahkan kepada KEDUA PAHLAWAN HIDUP saya BAPAK dan MAMI.

Terima kasih terima kasih teima kasih terima kasih terima kasih terika kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah berjasa buat saya, semoga Allah membalas kalian semua dengan kebaikan dari segala kebaikan. Amin.
Temen seperjuangan dari UNTAN
With Bapak and Mami



That My Brother